Purna Abadi
- sscfib
- Jun 30, 2023
- 7 min read
oleh Atiqah Naruti yumna
Di atas tanah Surakarta tahun 2018, dua anak manusia baru saja saling menjatuhkan hati. Ayumi dan Abadi. Menautkan jemari dan berjanji untuk saling mengisi. Memberi genggaman pada masing-masing hati yang diyakini tak mungkin mereka ingkari.
Pada sore itu, 8 Maret 2018. Abadi baru saja membisikkan kepada dunia bahwa Ayumi Bhatari kini telah sudi menjadi pemilik hatinya. Ayumi Bhatari telah sudi membagi keluh, kesah, susah, dan bahagianya bersama dengan Abadi. Begitu hangat sinar senja merangkul sepasang kekasih yang baru saja meresmikan diri itu. Abadi mengamati wajah gadisnya dari samping, begitu teduhnya raut yang tampak rapuh itu. Namun, yang namanya Ayumi Bhatari akan selalu cantik di mata Abadi. Selalu. Gadisnya akan selalu indah di matanya.
“Ayo, pulang, Ayumi! Sudah sore,” ajak Abadi.
Ayumi yang tadinya masih asyik tersenyum menatap langit sore pun hanya mengangguk saja. Jemarinya masih setia menjadi satu dengan jari-jari panjang milik Abadi.
“Abadi,” panggil Ayumi tiba-tiba. Abadi menoleh.
“Kenapa?” Ayumi menggigit bibir bawahnya.
Tampak ragu dengan kalimat atau mungkin pertanyaan yang akan dilontarkan kepada kekasihnya tersebut.
“Abadi, kita … kita ini sekarang apa?” tanya gadis Jawa itu dengan banyak keraguan.
Tak langsung menjawab, Abadi justru tertawa setelah mendengar pertanyaan gadisnya. Lucu sekali, pikirnya. “Sudah jelas jawabannya, Ayumi. Aku Rama, kamu Shinta.” jawabnya seraya memandangi wajah rapuh Ayumi.
Muncul rona kemerahan pada wajah itu. Ayumi malu. Malu sekali. Abadi selalu mampu membuatnya merasa seperti sedang menjadi bagian dari burung-burung yang menari ke sana dan kemari di atas sana.
“Sudah-sudah. Ayo, pulang! Nanti ibumu bisa marah kalau aku terlambat memulangkan anak gadisnya.” Abadi menarik tangan Ayumi untuk segera menuju motornya.
Semilir angin sore itu sungguh geli menggelitik pori-pori. Mentari sudah hampir terbenam, tapi Ayumi dan Abadi masih berada di antara klakson kendaraan yang sama-sama ingin segera pulang ke rumah mereka. Surakarta di sore hari memang sudah seperti ibu kota. Para manusia berdasi yang sudah muak dengan urusan kursi, anak sekolah yang sudah membayangkan wanginya masakan ibu mereka sebagai menu makan malam, atau mahasiswa tingkat akhir seperti Ayumi yang hanya memiliki urusan dengan skripsi.
“Ramai sekali, ya?” ujar Abadi. Ayumi mengangguk di belakangnya.
“Sabar saja, ndak usah menyerobot.” Abadi menggeleng pelan.
“Malas juga kalau nanti harus seperti mereka,” katanya dengan dagu yang mengarah pada orang-orang tak sabaran dan segala sikap egoisnya itu dalam menerobos lampu merah.
“Memangnya mereka pikir, hanya mereka saja yang ingin segera tiba di rumah?” Terdengar kekehan dari Ayumi.
Betapa kekasihnya itu tak pernah berubah sejak dulu. Ayumi sudah mengenal Abadi sejak mereka duduk di bangku sekolah menengah atas. Abadi itu keras kepala, kritis, dan sangat tidak suka dengan orang yang dengan gamblangnya melanggar peraturan.
Tin! Tin! Tin!
“Asem iki! Kok ndak sabaran betul, toh, orang-orang itu? Bikin penging kuping saja!” gerutu laki-laki yang sebentar lagi menyelesaikan pendidikannya di akademi TNI AD itu.
“Kalau mereka ndak bisa sabar, makanya itu kita harus bisa,” nasihat Ayumi yang sedikit mengeratkan cekalannya pada jaket Abadi.
Abadi tersenyum, mengangguk setuju, dan sore itu mereka lewati dengan santai. Walau sesekali sumpah serapah masih keluar dari mulut Abadi, karena manusia-manusia yang kesabarannya setipis tisu itu. Namun, Abadi tak begitu menghiraukannya. Ia hanya peduli dengan gadis cantik yang kini duduk manis di boncengan sepeda motornya. Gadis ini sudah lama sekali Abadi kagumi. Ayumi Bhatari, kekasihnya. Asalkan bersama Ayumi, Abadi akan jalani.
***
Sudah hampir setengah jam menerobos hiruk-pikuk Jalan Slamet Riyadi sore itu, akhirnya Abadi selesai juga menjalankan tugasnya. Mengantarkan sang gadis sampai rumah dengan sehat dan selamat. Rumah Joglo yang senantiasa dijaga kelestariannya itu tampak hangat menyambut kedatangan mereka. Dari dalam, seorang ibu dengan kebaya motif bunga dan jarik lurik yang tersentuh goresan bumbu dapur, tergopoh-gopoh menerima ciuman tangan dari muda-mudi itu. Ayumi dan Abadi bergantian mencium tangan Maryatun, ibu Ayumi.
“Untung belum surup. Ora apik cah perawan mulih surup-surup,” kata Maryatun.
“Ngapunten nggih, Bu, dalanipun wau rame pol! Dadosipun radhi sore,” Abadi memberi penjelasan kepada Maryatun karena merasa bersalah sudah memulangkan Ayumi begitu sore.
Bisa dibilang keluarga Ayumi ini masih memelihara kental tuladha-tuladha atau kepercayaan orang Jawa. Keluarganya masih keturunan keraton, jadi tidak heran jika suasana Jawa di dalamnya masih sangat kental. Abadi merasa beruntung karena bisa menjadi kekasih dari gadis berdarah biru yang amat baik dan lembut itu. Sekali lagi, Abadi merasa beruntung karena kekasihnya adalah Ayumi. Ayumi Bhatari.
“Yo uwis. Ora opo-opo, sing penting uwis tekan omah iki. Trims yo, Abadi, uwis nganter anak wedokku pulang.” Maryatun menepuk bahu Abadi beberapa kali. Abadi mengangguk ramah.
“Nggih, Bu. Nggih sampun, nek ngoten kula badhe pamit rumiyin.”
“Lho, kamu ndak mau salat magrib dulu sekalian? Rumahmu dari sini, kan, lumayan jauh. Ndak apa, Abadi,” tawar Ayumi. Maryatun pun mengatakan hal yang sama.
“Hooh, Le. Magriban sisan wae ning kene.” Tidak enak jika menolak, akhirnya Abadi pun menuruti permintaan Ayumi dan ibunya untuk salat magrib di rumah Ayumi. Jarak dari rumah Ayumi ke rumahnya memang cukup memakan waktu. Ya, sudahlah. Daripada terlambat menunaikan ibadah, lebih baik sekalian saja di rumah Ayumi. *** Setelah menunaikan ibadah salat magrib dan menerima ajakan Ayumi serta Maryatun untuk makan malam di sana, akhirnya Abadi pamit pulang ke rumahnya. “Maturnuwun nggih, Ibu.” Tangannya menarik punggung tangan Maryatun, lalu menciumnya penuh hormat. “Terima kasih, Ayumi,” ujarnya kepada gadis cantik yang berdiri di sebelah Maryatun. Gadis itu … kekasihnya. Ayumi mengangguk seraya tersenyum. Setelah sesi berpamitan selesai, Abadi langsung menancapkan gas meninggalkan pekarangan rumah Joglo itu. Sementara di tempatnya, Ayumi masih terus memperhatikan kepergian Abadi. Perlahan bayangan laki-laki itu hilang dari pandangan. “Abadi baik, yo? Sopan. Ndak pernah berubah,” celetuk Maryatun. Ayumi terdiam membenarkan. “Abadi memang baik. Selalu baik.”
***
“Aku harus pergi, Ayumi.”
Ayumi memegang dadanya yang terasa begitu sesak. Rasanya baru kemarin mereka mengikat janji sebagai sepasang kekasih, tapi sekarang Abadi sudah harus kembali pergi untuk melanjutkan pendidikannya. Pagi-pagi sekali tadi, Abadi mengirim pesan padanya. Dalam pesan elektronik itu tertulis jika Abadi akan kembali melanjutkan pendidikannya, dan laki-laki itu pergi siang ini. Alhasil kini keduanya menyempatkan untuk bertemu sebentar di Alun-alun Kidul.
“Berapa lama?” tanya Ayumi.
“Dua bulan. Setelah itu, aku sudah lulus.”
Abadi menggenggam tangan mungil Ayumi, berusaha meyakinkan gadis itu jika dirinya akan segera kembali.
“Aku akan segera kembali, Ayumi.”Helaan napas pasrah mencuar dari mulut Ayumi.
“Harus. Kamu harus kembali,” tegasnya.
Abadi mengangguk mantap. Genggamannya semakin mengerat. Teduhnya sorot mata elang itu mampu menghangatkan hati Ayumi.
“Pinta aku kembali, Ayumi, pinta. Aku ndak akan kembali ke rumah yang bukan kamu. Cuma kamu, Ayumi Bhatari.” Anggukan kecil diberikan oleh Ayumi sebagai balasan.
“Selesaikan pendidikanmu, dan segera kembali ke Surakarta.”
“Pasti. Aku janji,” ucap Abadi dengan penuh ketegasan.
Tanpa basa-basi, Abadi langsung mendekap tubuh Ayumi yang tampak begitu mungil dalam dekapannya. Jemari Ayumi mengusap punggung Abadi dengan begitu lembut. Bibirnya mendekat ke telinga kanan Abadi.
“Surakarta dan aku menunggu kepulanganmu. Selalu, Abadi. Selalu.” Mendengar itu, Abadi kian mengeratkan pelukannya. Seolah tak ingin melepas gadisnya walau hanya satu detik saja. Dibelainya rambut hitam panjang yang wangi itu. Abadi akan selalu merindukannya. Selalu.
“Jaga dirimu baik-baik. Aku pasti kembali, Ayumi. Tunggu aku,” lirih Abadi.
Entah tersihir perasaan macam apa, Abadi kian mendekap Ayumi. Kian lekat, kian rapat. Abadi mendekapnya dengan hangat. Tanpa jarak, tanpa celah, sebelum mereka berpisah. Aku akan merindukanmu, Ayumi. Ayumi Bhatari gadisku. Kekasihku.
***
Sudah lebih dari satu jam Abadi meninggalkannya, tapi Ayumi masih setia berdiri di sana. Di tengah Alun-alun Kidul yang dipenuhi rerumputan hijau. Berharap jika sang kekasih akan berbalik badan dan kembali memeluknya, walau itu tak mungkin terjadi. Ayumi hanya bisa menghela napas. Semoga Abadi baik-baik saja dan mendarat dengan selamat. Sudah puas meraba angannya sendiri, Ayumi memilih untuk kembali ke rumah. Gadis itu pulang menaiki becak. Sepanjang keramaian Jalan Slamet Riyadi yang menghiasi pandangannya, Abadi terus berputar di sana seperti kaset yang tak mau dihentikan iringannya. Baru satu jam lebih, tapi Ayumi sudah rindu.
“Maturnuwun nggih, Pak,” ujar Ayumi kepada tukang becak yang mengantarnya pulang. Gadis itu turun dari becak dengan pandangan heran. Maryatun bejalan cepat menghampirinya. Wanita berkepala empat itu dengan sigap langsung memeluk tubuhnya. Entah angin apa yang membuat ibunya demikian. Ayumi tak mengerti.
“Kenapa, toh, Bu?” tanya Ayumi dengan raut keheranan.
Maryatun menguraikan pelukannya.
“Kenapa baru kembali? Abadi sudah terbang satu jam yang lalu, toh?” Ayumi mengangguk.
“Maaf, Bu, tadi Ayumi masih betah di sana.”
“Sudah memeluk Abadi?” tanya Maryatun.
Ayumi mengangkat kedua alisnya. “Maksud Ibu?”
“Sudah menggenggam tangannya?” Maryatun tak menjawab, dia justru kembali bertanya.
“Ibu …” Ayumi semakin bingung dengan sikap Maryatun yang tiba-tiba itu.
“Abadi bilang akan kembali, toh?” Lagi-lagi pertanyaan membingungkan itu dilontarkan oleh Maryatun.
“Ibu sebenarnya kenapa? Ada apa?” Dengan berat hati,
Maryatun segera menarik tangan Ayumi untuk masuk ke dalam rumah. Diperlihatkannya berita di televisi yang memuat kabar jatuhnya pesawat yang Abadi tumpangi. Pesawat itu dilaporkan mengalami hilang kontak sejak tiga puluh lima menit sejak lepas landas, dan dilaporkan jatuh di sekitar perairan selat sunda sejak dua belas menit yang lalu.
“Ibu …” Bahu Ayumi bergetar. Irama jantungnya tak menentu. Air matanya dengan cepat merambat turun. Maryatun mengangguk.
Segera memeluk sang putri yang sudah ambruk. Membiarkan gadis itu menumpahkan seluruh air matanya di sana, dalam dekapannya.
“Ibu … Abadi …,” cicit Ayumi dengan suara yang bergetar.
“Abadi … Abadi janji akan kembali, Bu. Abadi sudah janji akan pulang dan menemuiku … Abadi …” Tangisnya kian merengsek di setiap sudut rumah Joglo itu.
“Ibu …” Ayumi tak dapat melanjutkan kalimatnya. Pilunya kian menderu mendengar kabar itu. Ayumi tak ingin terkecoh. Ayumi ingin tetap pada pendiriannya yang sebenarnya yakin jika Abadi pasti selamat dan kembali kepadanya. Jika Abadi pasti akan menepati janjinya. Jika Abadi tak mungkin ingkar. Abadi tak suka ingkar. Ayumi tahu jika Abadi akan selalu menepati perkataannya. Namun, kenapa hari ini tidak? Mata yang masih berlinang air mata itu kembali menatap ke arah televisi yang senantiasa menyala. Seolah dengan sengaja semakin mengorek hatinya yang kini sudah hancur tak bersisa. Di sana jelas terpampang gambar pesawat beserta daftar korbannya. Sakit. Sakit sekali. Jika tahu pelukan Abadi satu jam yang lalu adalah pelukan terakhirnya, Ayumi tak ingin melepaskannya. Akan Ayumi dekap erat-erat agar dia tak jadi pergi. Agar Abadi tetap di sini. Tetap bersamanya di Surakarta yang cantik ini. Abadi, katamu … katamu kamu tak akan pulang ke rumah yang bukan aku? Katamu … katamu kamu hanya akan kembali padaku? Lantas kenapa sekarang yang aku temui justru sebaliknya?
“Abadi … kenapa kamu pulang ke rumah yang belum tentu ada aku di dalamnya? Kenapa bukannya kembali ke Surakarta, kamu justru melesat ke nirwana, Abadi?” Prambadi Adijaya.
Namanya yang Abadi, membawanya terbang tinggi dan menjadi Abadi yang sebenar-benarnya abadi. Menjadi satu dari bintang-bintang yang dengan sudi menawarkan sinarnya untuk menerangi malam Ayumi yang gelap. Menjadi bagian dari Surakarta yang senantiasa menjaga Ayumi dari segala sendu dan lara. Menjadi pengemban tugas terakhir dalam menjaga Ayumi, dan kini … purna sudah tugasnya untuk menjaga, merangkul, dan mencintai Ayumi. Ayumi Bhatari kekasihnya. Kekasih Prambadi Adijaya.
Abadi, seperti namamu … abadilah kamu di nirwana. Abadilah kamu di atas sana. Aku … Ayumi Bhatari, kekasihmu yang akan selalu merindukanmu. Merindukan Prambadi Adijaya kekasihku.



Comments