Sebuah Penawar
- sscfib
- Jun 8, 2022
- 1 min read
Indhika Rahma Nur Hafifah
Sebuah percakapan kudengar di stasiun
Tatkala orang-orang berlalu lalang dalam kerasnya kehidupan
Seorang lelaki bermata sipit bercengkerama dengan penjaja keliling
Entah seputus asa apa hingga meminta waktu
Barangkali teman, atau seorang pendengar
Lelaki itu bercerita tentang sebuah puisi
“Sajak Pil” karya Pak Ahmadun Y. Herfanda
Agaknya lelaki itu tengah menelan banyak kepahitan
Pil pahit, air tuba, empedu
Maka izinkan aku bertanya
Adakah penawar untuk kegetiran itu?
Mahal? Kupinjam uang di bank
Langka? Kucari hingga Biru Laut ditemukan
Aku ingin memuntahkan racunnya
Teriaknya sembari menekan dada sesaknya
Sang penjaja tiada heran menatap raut menyedihkan
Nasib yang tiada berbeda mungkin juga dirasa
Tiada kulihat iba tak terpancar
Padahal kehidupannya sudah di ambang air pasang
Nafas panjang mengawali sang penjaja berbicara
Aku mungkin pendengarmu, tetapi aku bukan pendekarmu
Sebuah takdir sudah lama tertulis
Sebuah penawar telah lama tersedia
Bahkan sebelum racun tercipta
Bicaralah pada Tuhan
Dunia tiada mendengar raungan melasmu itu
Mari, kawan
Punggung kedua lelaki itu menghadap padaku
Mereka berjalan menuju tempat mengadu
Meminta pertolongan pada-Nya
Dunia ini payah sekali
Selalu menyediakan luka, darah, dan derita
Namun penawarnya di mana?
Kembali pada tujuan akhir manusia
Penawar itu tiada terlihat jika tidak mau melihat
Tiada terdengar jika tak mau mendengar
Tiada terbuka jika hatimu mati
Keretaku sampai
Aku pulang membawa cerita
Aku pulang mencari penawar
Aku pulang membunuh kecewa

Comments