top of page

Penggunaan Tokoh Kartun Wayang dalam Video Pembelajaran

Oleh: Indhika Rahma Nur Hafifah


Anak-anak merupakan kelompok pelajar dengan tingkat penyimpanan memori otak yang masih tinggi, sehingga kemampuan untuk mengingat lebih akurat. Mereka kemudian menirukan hal-hal yang telah dipelajari dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam proses belajar, anak-anak akan lebih mudah mengingat jika menggunakan media pembelajaran yang menarik. Selain itu, penggunaan media pembelajaran yang menarik juga akan meningkatkan kesenangan hati sehingga anak-anak akan menikmatinya, mengulanginya, dan kemudian mengingatnya secara otomatis. Kemampuan anak dalam mengingat dapat ditingkatkan melalui pemberian rangsangan dan pengetahuan. Maka dari itu, anak-anak akan memiliki kemampuan kognitif yang dapat bertahan lama. Kemampuan kognitif ini akan diperlukan anak-anak untuk memahami materi pembelajaran.


Peran orangtua dan guru sangat penting untuk mendukung perkembangan daya ingat anak-anak. Kedua pilar ini akan membantu anak-anak dalam mendalami suatu pembelajaran dengan memberikan kiat-kiat mengingat materi melalui gambar, lagu, bahasa isyarat, dan hal-hal menarik lainnya. Penyampaian materi seperti inilah yang dapat membuat anak-anak kecanduan untuk mengikuti pembelajaran-pembelajaran lainnya, sehingga daya ingatnya pun meningkat.


Orangtua dan guru juga merupakan pemegang kunci dalam penanaman nilai budaya pada diri anak-anak. Budaya yang hakikatnya dilakukan sebagai suatu kebiasaan baik, dirasa sangat perlu ditanamkan dalam diri seorang manusia sejak dini. Anak-anak akan mempelajari dan menirukan budaya hidup baik melalui orangtua dan guru mereka. Pengetahuan yang tersajikan dalam budaya tidak dapat dengan mudah dipahami oleh anak-anak. Namun, dengan pengulangan yang teratur, anak-anak akan mengingat pengetahuan tersebut dan bisa menjadi paham. Harapannya, budaya yang sudah tertanam dalam diri anak-anak ini akan membawa mereka kepada kehidupan yang baik di masa depan.


Pada masa pandemi Virus Covid-19, anak-anak tidak dapat bertemu secara langsung dengan guru setiap hari karena pembatasan aktivitas di luar rumah. Pembelajaran pun dilakukan secara daring untuk menghindari paparan virus tersebut. Sehingga, anak-anak diberi materi oleh guru melalui media elektronik dan selanjutnya dibimbing oleh orangtua. Namun, kenyataan dalam kehidupan sehari-hari memperlihatkan bahwa orangtua tidak dapat membimbing anak-anak secara maksimal. Hal ini disebabkan oleh waktu belajar anak-anak di rumah yang bertepatan dengan waktu bekerja orangtua. Meskipun sulit, anak-anak harus berusaha untuk memahami sendiri materi yang diberikan oleh guru mereka. Keadaan yang seperti ini jika diteruskan akan menyebabkan berkurangnya kemampuan anak-anak dalam memahami materi. Jiwa budaya dalam diri anak-anak pun menjadi menurun akibat minimnya interaksi budaya yang kemudian menyebabkan anak-anak menjadi asing kepada budaya yang dimilikinya. Maka dari itu, perlu inovasi berupa media pembelajaran untuk menanamkan nilai budaya dalam diri anak-anak sekaligus membantu anak-anak untuk memahami materi pembelajaran.


Berangkat dari permasalahan pembelajaran yang kurang menarik serta menjadi lebih membosankan dan sulit dimengerti sejak pandemi berlangsung, maka salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan memberikan video pembelajaran dengan tampilan gambar, suara, dan penyampaian yang memikat minat anak-anak. Pada zaman yang modern ini, anak-anak tentu sudah mengenal cara mengoperasikan gawai. Sehingga, para guru akan dengan mudah memberikan video pembelajaran yang dapat disaksikan oleh anak-anak. Meskipun guru dapat menyelenggarakan pertemuan virtual dengan murid-muridnya, tetapi minat anak-anak akan lebih tertuju pada suatu tokoh dalam video, sama seperti ketika anak-anak menonton animasi kartun.


Video pembelajaran yang diberikan oleh guru dianggap efektif untuk pembelajaran anak-anak. Dalam video tersebut, tentu harus terdapat pelaku yang membantu guru untuk menjelaskan materi pembelajaran. Umumnya, pelaku tersebut berupa tokoh kartun yang digemari oleh anak-anak. Namun, pada kenyataannya tidak jarang tokoh dalam video pembelajaran tersebut kurang dapat memberi nilai lebih pada diri anak-anak, padahal tokoh tersebut seharusnya bisa mewakili citra seorang guru. Maka dari itu, pemilihan tokoh harus diperhatikan untuk menambah nilai dari pembelajaran secara daring. Di samping hal tersebut, bertumpu pada kenyataan bahwa anak-anak kurang mengenal budaya, dapat menambah alasan adanya perhatian lebih untuk pemilihan tokoh dalam video pembelajaran. Sehingga dalam video pembelajaran, tokoh kartun wayang dapat digunakan sebagai pemeran untuk membantu anak-anak belajar budaya sekaligus belajar materi di sekolah.


Di Indonesia, wayang merupakan warisan budaya luhur yang telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity pada 7 November 2003. Tokoh-tokoh dalam wayang memiliki sifat dan ciri khas yang berbeda antara satu dengan yang lain. Jenisnya pun sangat beragam di berbagai daerah di Indonesia, seperti Wayang Kulit, Wayang Golek, Wayang Gedog, Wayang Krucil, Wayang Potehi, Wayang Orang, dan Wayang Beber. Bentuk wayang yang dikenal masyarakat Indonesia memiliki ciri yang unik tetapi sedikit menyeramkan bagi anak-anak. Mayoritas anak-anak akan merasa kurang suka jika melihat wayang dengan bentuk yang sedemikian rupa, meskipun pada kenyataannya mereka harus dapat mengenal tokoh-tokoh tersebut. Seperti kodratnya, anak-anak akan jauh lebih suka melihat sesuatu yang lucu, menggemaskan, dan indah. Maka dari itu, tokoh wayang dalam video pembelajaran anak-anak digunakan dengan animasi kartun yang populer di kalangan anak-anak.


Bentuk kartun wayang yang digunakan dalam video pembelajaran dapat berupa tokoh-tokoh wayang dari berbagai kalangan yang membantu menjelaskan materi. Karena di Indonesia jenis cerita wayangnya dibedakan menjadi Mahabarata dan Ramayana, maka video pembelajaran dapat membagi tokoh-tokoh tersebut sesuai dengan materi ajar. Contohnya adalah materi silsilah keluarga dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial pada jenjang sekolah dasar, tokoh wayang Pandhawa dapat menjelaskan silsilah keluarga Pandhawa dalam video pembelajaran. Tokoh Pandhawa dapat memberikan gambaran dalam video berupa Pandhu Dewanata sebagai ayah, Dewi Kunthi sebagai ibu, serta Puntadewa, Werkudara, Arjuna, Nakula, dan Sadewa sebagai anak dari ayah dan ibu. Selain itu, pada materi matematika, tokoh Kurawa dapat membantu anak-anak berhitung dengan menggunakan sanak saudaranya. Contoh lain adalah penggunaan tokoh Arjuna dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam yang membantu menjelaskan gaya pegas pada sebuah panah. Dalam cerita wayang, Arjuna memiliki panah bernama Pasopati. Sehingga dalam video pembelajaran, anak-anak bisa melihat gaya pegas yang terdapat pada panah Arjuna tersebut.


Utamanya, dalam video pembelajaran yang menggunakan kartun wayang sebagai tokohnya, anak-anak akan lebih mengenal tokoh-tokoh wayang beserta sifat-sifatnya. Tokoh kartun wayang tersebut juga akan memperkenalkan diri beserta karakter yang dimilikinya dan cerita yang dilakoninya. Werkudara atau yang lebih dikenal dengan Bima, mengusung watak berani menentang ketidakadilan, berbakti kepada orangtua dan guru, setia, dan berjiwa pahlawan yang dapat diteladani oleh anak-anak. Anak-anak juga dapat mencontoh karakter Kresna yang bijaksana, suka membela kebenaran, dan adil. Di sisi lain, gambaran sifat buruk dapat tercerminkan dari tokoh Sengkuni yang berwatak licik, suka berbohong, dan pengadu domba. Gambaran sifat buruk lainnya juga dapat diperlihatkan kepada anak-anak melalui tokoh Rahwana yang berwatak angkara murka, sehingga anak-anak harus menjauhi sifat-sifat buruk tersebut.


Melalui pemaparan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa video pembelajaran yang menggunakan tokoh kartun wayang merupakan solusi untuk membantu anak-anak dalam memahami pembelajaran dan menanamkan jiwa budaya dalam diri anak-anak sejak dini. Video pembelajaran yang dibuat menarik, akan memiliki nilai tambah jika lebih memperhatikan unsur-unsur dalam video, terutama tokoh yang membawakan materi. Penggunaan tokoh kartun wayang yang menemani anak-anak belajar dari rumah melalui gawai akan menambah pemahaman materi di sekolah dan memperkenalkan anak-anak dengan budaya asli Indonesia. Tokoh kartun wayang tersebut dapat menjadi utusan guru untuk menjelaskan materi dengan tidak membosankan karena memiliki banyak karakter yang tercermin dari tokoh-tokoh tersebut. Sehingga, anak-anak yang masih memiliki daya ingat tinggi akan menggunakan waktunya secara efektif untuk belajar. Hal ini kemudian akan berdampak pada peningkatan kemampuan kognitif dan perilaku yang berbudaya.


DAFTAR PUSTAKA

Novianti, et.al. 2019. Meningkatkan Kemampuan Ingat Anak Usia Dini Melalui Media Pembelajaran Mind Mapping dalam Jurnal Ceria. Vol. 2, No. 3. Cimahi : IKIP Siliwangi.


Fitriawati, Etty., et.al. Peningkatan Kemampuan Daya Ingat Anak Melalui Metode Bercerita dengan Media Gambar Berseri. Pontianak : PGPAUD, FKIP Universitas Tanjungpura.


Handoko, Antonius., Subandi. 2017. Peran Identifikasi Tokoh Wayang dalam Pembentukan Identitas Diri dalam Jurnal Psikologi. Vol. 44, No. 2. Yogyakarta : UGM.

Recent Posts

See All

Comments


Postingan: Blog2_Post

©2022 oleh Sarasati Community. Dibuat dengan Wix.com

bottom of page