SEJARAH PERADABAN ISLAM DI SPANYOL SERTA PENGARUH YANG DITIMBULKAN
- sscfib
- Jun 8, 2022
- 6 min read
Oleh: Lintang Nur Ulfiyah
Kejayaan dan kegemilangan bangsa Barat, baik dalam bidang politik maupun ilmu pengetahuan dan teknologi, tidak bisa terlepas dari peran serta peradaban Islam yang salah satunya berada di Spanyol. Di saat bangsa Eropa mengalami keterpurukan di Abad Pertengahan, Islam pada saat itu justru mencapai masa keemasannya. Eropa baru mulai bangkit dari keterbelakangannya saat Islam menguasai Spanyol pada abad ke-8.
panyol pada Abad Pertengahan merupakan pusat peradaban Islam yang penting bahkan sampai menjadi saingan Baghdad di Timur. Ketika itu, Islam seperti menjadi figur pengajar bagi komunitas Eropa. Banyak sumber tertulis mengatakan bahwa keilmuan Islam adalah jembatan antara filsafat Yunani dan peradaban Barat. Sampai kini banyak filosof Muslim yang pemikiranya begitu masyhur di dunia Barat, diantaranya Ibnu Rusyd (Averroes), Ibn Sina (Avicenna), Ibnu Miskawaih, Ibnu Khaldun, dan lain sebagainya (Kurniawan, 2014).
Masuknya Islam di Spanyol
Dalam sejarah Islam, Dinasti Umayyah dibagi menjadi dua periode. Periode pertama berdiri pada 661-750 Masehi dan berpusat di Damaskus sedangkan periode kedua berdiri pada 756-1031 Masehi di Cordoba, Spanyol. Ekspansi ke dunia barat sendiri baru dilakukan di akhir abad ke-7. Sebelum terjadi penaklukan Spanyol, ekspansi militer Dinasti Umayyah, tepatnya pada masa kekhalifahan Abdul Malik bin Marwan (685-705 M), baru mencapai Afrika Utara. Setelah penaklukan Afrika Utara, Khalifah Abdul Malik bin Marwan mengangkat Ibnu Nu’man Al-Ghassani menjadi gubernur di daerah itu. Selanjutnya pada masa Khalifah Walid bin Abdul Malik (705-715 M), Hasan bin Nu’man digantikan oleh Musa bin Nushair. Musa bin Nushair sukses memperluas ekspansi wilayah dengan menduduki daerah Aljazair dan Maroko serta menaklukan wilayah bekas kekuasaan bangsa Barbar sehingga mereka menyatakan loyal dan berjanji tidak akan membuat kekacauan.
Penaklukan Afrika Utara dianggap sebagai batu loncatan bagi kaum Muslimin untuk menguasai wilayah Spanyol. Ada tiga pahlawan Islam yang dapat dikatakan paling berjasa dalam proses penaklukan Spanyol, yaitu Tharif bin Malik, Thariq bin Ziyad, dan Musa bin Nushair. Tharif adalah orang pertama yang sukses menyeberangi selat antara Maroko dan Benua Eropa dan dianggap sebagai perintis dan penyelidik wilayah Iberia. Pada tahun 711 M, karena termotivasi oleh keberhasilan Tharif dan krisis kekuasaan dalam kerajaan Gothic yang menguasai Spanyol pada saat itu, serta dorongan yang besar untuk memperoleh harta rampasan perang, Musa bin Nushair mengirim pasukan sebanyak 7.000 orang ke Spanyol di bawah pimpinan Thariq bin Ziyad (Hitti, 2005). Gunung tempat pertama kali Thariq dan pasukannya mendarat kini dikenang dengan nama Gibraltar (Jabal Thariq).
Thariq berhasil mengalahkan Raja Roderick dalam pertempuran di Bakkah pada tanggal 19 Juli 711 M, Selanjutnya, Thariq dan pasukannya terus menaklukkan kota penting lain, seperti Cordova, Granada, dan Toledo. Pasukan Roderick, menurut Syalabi, kalah karena pasukannya terdiri dari hamba sahaya dan orang-orang lemah. Selain itu, di antara mereka ada pula musuh-musuh Roderick—seperti orang Yahudi yang secara rahasia juga bersekutu dengan kaum Muslimin). Kemenangan pertama yang diperoleh Thariq bin Ziyad merupakan jalan lapang untuk penaklukan wilayah yang lebih luas lagi. Usaha yang sama juga dilakukan Musa bin Nushair. Begitu ia menaklukkan Sidonia, Karmona, Seville, dan Merida serta mengalahkan penguasa kerajaan Gothic, Theodomir di Orihuela, Musa selanjutnya bergabung dengan Thariq di Toledo. Pada akhirnya mereka berhasil menguasai seluruh kota penting di Spanyol, mulai dari Saragosa sampai Navarre (Yatim, 1994).
Dari kisah penaklukan Spanyol di atas, dapat diketahui bahwa kerjasama dan keterlibatan aktif pimpinan pusat dan pelaksana lapangan telah memberi kesuksesan dalam ekspansi wilayah Islam ke Spanyol. Saat seluruh wilayah Afrika Utara sudah dikuasai dan kekuasaan kerajaan Gothic mulai melemah, maka penguasaan daerah Spanyol menjadi target selanjutnya. Keberhasilan Tharif yang dianggap berani dalam perjalanannya menuju Spanyol mendorong Thariq untuk mengadakan ekspedisi dengan pasukan lebih besar. Peran serta Musa bin Nushair dalam penaklukan Spanyol juga memperkuat keberhasilan Thariq dalam upaya penaklukan.
Perkembangan Islam di Spanyol
Pada tahun 750 M, Dinasti Umayyah yang berpusat di Damaskus runtuh oleh kekhalifahan Bani Abbasiyah. Abdurrahman Ad-Dakhil, anggota keluarga bani Umayyah yang berhasil lolos dari bani Abbasiyah, melarikan diri ke Spanyol dan mendirikan Dinasti Umayyah kedua yang berpusat di Cordoba pada tahun 755 M. Dari situlah pada generasi selanjutnya Islam dapat menguasai seluruh semenanjung Iberia dan Islam dapat mencapai masa keemasan dan kejayaannya di Spanyol.
Kekhalifahan baru ini bahkan mampu mengimbangi kejayaan Dinasti Abbasiyah, khususnya dalam bidang sains dan teknologi. Kemilau sains dan teknologi di wilayah kekuasaan Dinasti Umayyah Andalusia berawal dari zaman kekuasaan Abdurrahman Al-Aushat. Menurut Ahmad Syalabi, Abdurrahman Al-Aushat dikenal sebagai pemimpin yang cinta ilmu pengetahuan. Sebagai Amir yang berkuasa di Cordoba, beliau mengundang para ahli dari dunia Islam untuk bertandang ke sana. Sejak itulah, aktivitas ilmu pengetahuan mulai menggeliat di Spanyol. Sains dan teknologi kian berkembang pesat ketika Dinasti Umayyah di Spanyol dipimpin Abdurrahman III yang bergelar An-Nasir, penguasa pertama di Spanyol yang mendeklarasikan diri sebagai Khalifah pada 929 M. Pada periode inilah peradaban Islam di Spanyol berhasil mengimbangi, bahkan menyaingi kehebatan Kekhalifahan Abbasiyah yang berpusat di kota Baghdad, Irak (Sasongko, 2019).
Secara umum, pendidikan di Spanyol terbagi menjadi dua tingkatan, yaitu kuttab (semacam pesantren atau halaqah) dan Al-Ma’had Al-‘Ali (semacam pendidikan tinggi). Pada masa kepemimpinan Abdurrahman III, Universitas Cordoba berdiri di pusat pemerintahan. Menurut Sejarawan Said Al-Andalusi, sang Khalifah juga mendirikan perpustakaan megah dengan koleksi buku yang melimpah. Cordoba pada saat itu pun menjadi terkenal sebagai salah satu pusat ilmu kedokteran dan filsafat berpengaruh setelah Baghdad. Di sana para ilmuwan ditempatkan pada posisi terhormat dan mendapat dukungan penguasa, ini membuat ilmu pengetahuan berkembang begitu pesat di Kekhalifahan Umayyah Andalusia.
Pengaruh peradaban Islam, termasuk di dalamnya pemikiran Ibn Rusyd, ke Eropa berawal dari banyaknya pemuda-pemuda Kristen Eropa yang belajar di universitas Islam di Spanyol, seperti Universitas Cordova, Seville, Malaga, Granada, dan Salamanca. Pengaruh ilmu pengetahuan Islam atas Eropa itu juga menimbulkan gerakan kebangkitan pusaka Yunani di Eropa pada abad ke-14 M. Berkembangnya pemikiran Yunani di Eropa ini adalah melalui terjemahan Arab yang kemudian diterjemahkan kembali ke dalam bahasa latin.
Sederet ilmuwan penting dan terkemuka yang turut mengembangkan beragam ilmu pengetahuan seperti astronomi, kedokteran, anatomi, optik, psikologi, ilmu bedah, biologi, filsafat, puisi, musik, navigasi, sejarah, arsitektur, geografi, fisika, matematika, serta kimia pun bermunculan. Kemunculan tokoh Ibnu Bajjah, Ibnu Tufail, dan Ibnu Rusyd menunjukkan kemajuan intelektual yang tinggi. Bahkan, kemajuan dalam bidang ilmu dan teknologi itulah yang mendukung keberhasilan politik di negeri itu.
Kemajuan Spanyol juga ditentukan oleh adanya penguasa berwibawa yang mampu mempersatukan umat Islam. Toleransi beragama juga ditegakkan oleh para penguasa terhadap penganut Kristen dan Yahudi sehingga mereka ikut berpartisipasi mewujudkan peradaban Islam di Spanyol. Perselisihan antar pemeluk agama dapat ditekan sekecil mungkin sehingga mereka dapat hidup damai secara berdampingan.
Meski ada persaingan yang sengit antara Abbasiyah di Baghdad dan Umayyah di Spanyol, hubungan budaya dari Timur dan Barat tidak selalu berupa peperangan. Sejak abad ke-11 M, banyak sarjana mengadakan perjalanan untuk belajar. Hal ini menunjukkan adanya kesatuan budaya Islam kendati terdapat perbedaan paham politik. Perpecahan politik pada masa Muluk Al-Thawaif dan sesudahnya pun tidak menyebabkan mundurnya peradaban. Hal ini disebabkan oleh adanya semangat yang dimiliki pemimpin, seperti Muluk Al-Thawaif, pada dinasti di Malaga, Toledo, Seville, Granada, dan lain-lain untuk berkompetisi dengan pusat ilmu dan peradaban Islam di Spanyol.
Kemunduran dan Kehancuran Bangsa Islam di Spanyol
Meski mengalami kemajuan yang begitu gemilang di Eropa, pada akhirnya Islam si Spanyol juga mengalami kehancuran yang disebabkan oleh beberapa hal. Salah satunya adalah konflik keagamaan. Dalam penaklukan Spanyol, para penguasa muslim tidak melakukan islamisasi secara menyeluruh, orang-orang Kristen yang di sana dibiarkan untuk mempertahankan hukum dan adat mereka. Namun, kehadiran orang Arab Islam telah memperkuat rasa kebangsaan orang-orang Spanyol Kristen sehingga pertentangan antar umat Islam dan Kristen tidak dapat dihindarkan. Orang-orang Arab di Spanyol tidak pernah menerima orang-orang pribumi meski seharusnya setiap Muslim itu adalah sederajat. Mereka masih memberi istilah ibad dan muwalladun yang dinilai merendahkan. Tidak adanya ideologi pemersatu ini membuat kelompok etnis non-Arab lambat laun menggerogoti dan merusak perdamaian.
Pada paruh kedua masa Islam di Spanyol, para penguasa dengan gencar membangun kota dan mengembangkan ilmu pengetahuan dengan serius, hingga lalai dalam mengembangkan perekonomian. Hal ini mengakibatkan kesulitan ekonomi sehingga mempengaruhi kondisi politik dan militer bangsa Islam di Spanyol. Munculnya Muluk Al Thawaif (negara kecil) akhirnya memaksa runtuhnya kekuasaan bani Umayyah dan menjadi penyebab jatuhnya Granada yang merupakan pusat kekuasaan Islam terakhir di Spanyol ke tangan Ferdinand dan Isabella. Gerakan Reconquista membuat umat Islam begitu terpuruk, saat itu mereka diberikan dua pilihan: memeluk agama Kristen atau meninggalkan Spanyol. Keadaan Muslim di Spanyol yang terpisah dari dunia Islam yang lain, membuat mereka hanya bisa mendapat bantuan dari Afrika Utara. Dengan demikian, tidak ada kekuatan alternatif yang mampu membendung serangan orang Kristen yang telah bangkit.
Walaupun umat Islam harus meninggalkan Spanyol pada akhirnya dengan cara yang menyakitkan, Islam telah menjembatani gerakan-gerakan penting di Eropa. Pengaruh ilmu pengetahuan Islam atas Eropa menimbulkan gerakan kebangkitan kembali (renaissance) atas pusaka Yunani di Eropa pada abad ke-14 M yang bermula di Italia, berlanjut dengan gerakan reformasi pada abad ke-16 M dan rasionalisme pada abad ke-17 M, serta masa pencerahan (Aufklarung) yang terjadi pada abad ke-18 M (Yatim, 1994). Kondisi bangsa Barat itu berbanding terbalik dengan keadaan umat Islam yang kemudian malah mengalami kemunduran, tenggelam dalam perpecahan. Kendati demikian, peran Islam tetap terasa meski tidak lagi dalam bentuk sebuah agama, melainkan dalam bentuk peradaban yang tinggi.
DAFTAR PUSTAKA
Adnan, S. A. (2020, April 29). 29 April 711: Pasukan Islam Menaklukkan Spanyol. Dipetik Desember 31, 2020, dari Oase: https://m.oase.id/read/pR2mzW-29-april-711-pasukan-islam-menaklukkan-spanyol
Hitti, P. K. (2005). History of Arabs. (C. L. Yasin, Penerj.) Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.
Kurniawan, M. A. (2014). Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam: Dari Masa Klasik, Tengah, Hingga Modern. (D. Wahyudi, Ed.) Jakarta: Qoulun Pustaka.
Maskhuroh, L. (2017). Islam Spanyol (Perkembangan Politik, Intelektual dan Runtuhnya Kekuasan Islam). DAR EL-ILMI: Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan Dan Humaniora, 106-117.
Sasongko, A. (2019, Oktober 2). Kemilau Peradaban Islam di Spanyol. Dipetik Desember 30, 2020, from Republika Online: https://republika.co.id/berita/pyq3t6313/kemilau-peradaban-islam-di-spanyol
Sjanu, A. (2017, April 11). Manfaat Mempelajari Sejarah Kebudayaan Islam. Dipetik Desember 30, 2020, dari Kompasiana.com: https://www.kompasiana.com/asna/58ecf1406523bd9d6ddaea59/manfaat-mempelajari-sejarah-kebudayaan-islam
Sudirman. (2011). Islam dan Peradaban Spanyol: Catatan Kritis Beberapa Faktor Penyebab Kesuksesan Islam Spanyol. EL HARAKAH: Jurnal Budaya Islam, 215-234.
Ubadah. (2008). Peradaban Islam di Spanyol dan Pengaruhnya Terhadap Peradaban Barat. Hunafa, 151-164.
Yatim, B. (1994). Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Comments