top of page

Anyelir Merah

Oleh: Halimatus Sa'diyah


Sejak perpisahan Pramono dengan Ambarwati 45 tahun silam, hidupnya terasa suram. Gelungan rambut yang rapi, wajah campuran Jawa – Belanda yang begitu cantik, kulit putih, dan kebaikan hatinya yang tidak mudah ia lupakan. Usianya mencapai 70 tahun, kini Pramono hanya bisa terbaring di tempat tidur dan menikmati masa tua. Tepat di tahun 1930, saat Belanda menduduki bangsa Indonesia, salah satu dari mereka mengambil Ambarwati. Mereka mengetahui bahwa Ambarwati adalah bagian dari organisasi pergerakan perempuan Indo. Dalam memperjuangkan hak perempuan Indo, Ambarwati selalu berada pada barisan depan sebagai pembela kesetaraan kedudukan antara wanita pribumi, wanita Eropa dan wanita Indo.


Saat Pramono sedang berada di pasar untuk bertemu dengan Ambar, tiba – tiba saja Ambar mengatakan sesuatu yang membuatnya heran.


Ambarwati : “Jika suatu hari nanti aku tertangkap oleh pemerintah Belanda, maka pergilah mencari gadis lain, Pram.” (memeluk Pramono dengan begitu erat).


Pramono : “Kau mengatakan apa Ambar?, tidaklah mungkin aku mampu menemukan gadis lain sepertimu.” (Melepaskan pelukan Ambar).


Ambarwati : “Apa kau lupa Pram? Aku ini adalah bagian dari organisasi pergerakan perempuan Indo, sewaktu – waktu bisa saja tertangkap oleh Belanda. Maka, aku berpikir bahwa dengan mengatakan ini, kita bisa mengakhiri hubungan sebelum pernikahan itu tiba.”


Pramono : (Mengernyit dan membentak) “Aku tahu itu Ambar, tapi alasanmu sungguh tidak masuk akal!”


Ambarwati : ”Aku bersungguh – sungguh Pram, aku harus membela orang – orang Indo, karena aku bagian dari mereka. Sebagai kaum Indo, aku tidak tahan dengan perlakuan orang – orang Belanda yang memandang martabat kami rendah, bahkan kaum pribumi dari kalangan elite pun juga begitu bukan? Apa salah kami dan orang tua kami? Perbedaan ras dan negara? Dengan itu orang tua kami menjadi penghianat? Lalu kami ditindas dan tidak mendapatkan hak yang sama dengan lainnya? Kami merasa terhina, Pram, sungguh terhina.” (menyeka air matanya yang jatuh).


Pramono : “Aku tahu niatmu baik Ambar, tapi janganlah berbicara seperti itu. Izinkan aku untuk turut bersamamu membela kaum Indo di hadapan mereka, aku tidak bisa hidup tanpamu Ambar, aku mohon kau jangan mengatakan seperti itu lagi.” (menatap Ambar dengan mata yang berkaca – kaca).


Ambarwati : “Mana mungkin kau bisa membela kami Pram, kau keturunan asli pribumi Jawa, kau tidak akan bisa membela kami karena kau tidak pernah mengalami penderitaan ini.”


Pramono : “Tapi aku mencintaimu Ambar, aku mencintai seorang Indo. Aku bisa merasakan apa yang kau rasakan.”


Ambarwati : “Tidak Pramono, itu tidaklah mungkin. Ayahku seorang Belanda dan ibuku seorang pribumi Jawa. Ayahku dicap sebagai penghianat bangsa dan diasingkan ke Tanjung Harapan. Lalu ibuku mendapatkan cemoohan dan diperlakukan rendahan oleh kaum elite pribumi. Ayah ibuku saling mencintai tapi takdir memisahkan mereka. Kisah mereka cukuplah menjadi kekuatanku untuk melawan Belanda dan kaum elite pribumi. Aku ingin semuanya sadar bahwa cinta dua insan yang berbeda negara tidaklah diartikan sebagai sebuah penghianatan bangsa.” (mengepalkan tangan dan berbicara dengan nada yang tinggi dan bersemangat).


Pramono : “Baiklah jika itu maumu, aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu Ambarwatiku, kekasihku. Terimalah bunga anyelir merah ini dariku. Sekarang, sudah waktuku untuk kembali menanam kopi di kebun. Aku pergi dulu.” (pergi meninggalkan Ambarwati).


Ambarwati : (Berbicara dalam hati) “Aku akan menyimpannya Pram. Maafkan aku Pram, maafkan aku.”


Malam hari saat Pramono tertidur, ia mendengar suara riuh para kuli di luar gubuk Pram. Mereka menyebut – nyebut nama seseorang. Nama yang tak asing ditelinga Pram, nama yang jika Pram mengucapkannya berdegup kencang jantungnya. Ambarwati seorang gadis Indo lah yang para kuli sebut – sebut. Pram terhenyak untuk bangun, dan tiba – tiba saja ada yang mengetuk pintu gubuknya.


Kuli 1 : “Pram, bangunlah, Pram bangunlah, kami ingin mengabarkan hal buruk kepadamu. Pram tolong bukakan pintumu.”


Kuli 2 : “Pram, Ambarwati, Ambarwati dalam bahaya.”


Pramono : (Membukakan pintu) “Ada apa dengan Ambarwati? Baru tadi pagi aku bertemu dengannya. Ada apa dengan dirinya?”


Kuli 1 : “Pemerintah Belanda menangkap para wanita yang tergabung dalam organisasi pergerakan perempuan Indische, dan juga aku melihat Ambarwati ditangkap.”


Pramono : “Bohong kamu, mana mungkin dia begitu! Ambarwati sangat kuat, cerdas, dia berani bersuara dan tidak akan mungkin dengan mudahnya ditangkap oleh Pemerintah.”


Kuli 2 : “Pram, kami melihat dengan mata kepala kami sendiri. Saat kekasihmu sedang berorasi di depan kantor residen, saat itulah pemerintah murka dengan segala ocehannya. Mereka para wanita ditangkap untuk selanjutnya disidang dan dipenjarakan.”


Pramono : “Astaga.”


Kuli 1 : “Kemungkinan kecil Ambarwati masih berada di kantor residen, sebaiknya kau datang kesana pagi. Nanti aku akan mengizinkanmu dengan alasan sakit agar kau tidak dimarahi oleh Mandor.”


Kuli 2 : “Iya Pram, kau urus saja percintaanmu itu.”


Pramono : “Terima kasih, aku minta untuk kalian membubarkan kerumunan kuli itu, aku sudah lelah ingin tidur dan mempersiapkan diri untuk keesokan harinya.”


Keesokan harinya, Pramono mendatangi kantor residen. Dia sama sekali belum mandi. Satu tekadnya, Pramono ingin menjemput Ambarwati. Dia datang dengan sembunyi – sembunyi, dan melihat bahwa di kantor residen tidak ada agenda persidangan. Kantor residen beroperasi seperti biasanya. Dia semakin penasaran dengan keberadaan Ambarwati.


Pramono : (Berbicara dalam hati) “Ada di mana Ambarwati? Kantor residen berkegiatan seperti biasa. Apa jangan – jangan Ambarwati sudah berada di penjara? Kalau begitu aku akan pergi ke sana.”


Di pelataran penjara, Pramono bersembunyi di balik tembok samping bangunan penjara. Dia mendengar ada dua polisi Belanda yang saling berbincang. Pramono sedikit paham dengan bahasa Belanda.


Polisi 1 : “Ik had verwacht dat meisje gered worden door het districhtshoofd. Het meisje had veel geluk, anders was hij verbannen naar Boeven Digoel.” (Aku tidak menyangka gadis itu diselamatkan oleh kepala distrik. Gadis itu sangat beruntung, kalau tidak dia akan dibuang ke Boeven Digoel).


Polisi 2 : “Het war dat ik dacht dat het districtshoofd dat meisje al heel lang leuk vond. De wijkchef durfde det zelfs voor 500 gulden te verzilveren.” (Benar sekali aku berpikir bahwa kepala distrik menyukai gadis itu sejak lama. Kepala distrik bahkan berani menebusnya dengan 500 gulden).


Polisi 1 : “Haar mooie gezicht vanwege de afstamming van haar Nederlandse vader, kan iedereen verliefd maken. Het spijt me heel erg, Het meisje gebruikt een Javaanse naam.” (Parasnya yang cantik karena keturunan ayah Belanda, mampu membuat siapapun jatuh hati. Aku sangat menyayangkan, dia memakai nama orang Jawa).


Polisi 2 : “Ik wed dat het meisje hierna zal trouwen met het districhtshoofd en haar naam zal veranderen in een Nederlandse naam.” (Aku berani taruhan, setelah ini gadis itu akan menikah dengan kepala distrik dan mengganti namanya menjadi nama Belanda).

Polisi 1 : “Ik durf er niet op te wedden, omdat ze deel uitmaakt van de Ino vrouwn bewegings organisatie, maar we zullen later zien.” (Aku tidak berani taruhan, karena dia bagian dari organisasi pergerakan perempuan Indo, tapi kita lihat saja nanti).


Mendengar perkataan dua polisi Belanda, Pramono terdiam. Dia terkejut dan raganya lemas. Dia berpikir bahwa gadis yang polisi Belanda sebut adalah kekasihnya Ambarwati. Ambarwati selalu membayangi Pramono. Dengan pembicaraan kedua polisi itu, sudah dapat disimpulkan bahwa Ambarwati tidak dipenjara, dia di bawa oleh kepala distrik.


Pramono : “Kau ada di mana kasihku, kau ada di mana? Akulah tempatmu berpulang bukan kepala distrik itu.”


Di kebun, saat waktu istirahat tiba, para kuli terus bertanya kepada Pramono mengenai keberadaan Ambarwati.


Kuli 1 : “Bagaimana Pram? Apakah kau berhasil membawa Ambarwati?” (Memegang bahu Pramono).


Pramono : (Berbicara sambil menangis) “Kemarin aku sudah ke sana, ada dua polisi Belanda yang mengatakan bahwa Ambarwati telah diselamatkan oleh kepala distrik. Aku terlambat, sungguh terlambat tidak bisa menyelamatkan kekasihku sendiri. Mereka berpikir bahwa kepala distrik telah jatuh hati dengan Ambarwati.”


Kuli 2 : “Lalu apa yang akan kamu lakukan selanjutnya Pram? Sadarlah, kau hanyalah seorang kuli perkebunan kopi. Sedangkan, yang menyelamatkan Ambarwati adalah kepala distrik yang sudah pasti kaya raya, tampan, hanya saja kepala distrik adalah seorang Belanda.”


Pramono : “Aku sudah kehilangan harapan, sebelum dia tertangkap, pagi itu dia berpesan agar aku melupakannya dan mencari gadis lain. Aku mengira bahwa kata itu tidak akan nyata terjadi.”


Kuli 1 : “Sudahlah Pram, hidup harus terus berjalan. Lambat laun aku yakin kau bisa melupakan Ambarwati. Kau akan menemukan gadis lain yang jauh lebih baik daripada dia yang akan menemanimu sampai tua.”


Pramono : “Entah, sepertinya itu sangat sulit bagiku. Aku dan Ambarwati hampir menuju pernikahan. Dia menerimaku apa adanya. Aku pun mencintainya tanpa memandang bagaimana latar belakang keluarganya. Dia gadis Indo yang selamanya akan aku cintai.”


Kepala distrik itu bernama Cornelis van Houben. Melihat Ambarwati menangis saat persidangan kemarin, berhasil meluluhkan hatinya untuk menolong perempuan keturunan Belanda – Jawa itu. Ambarwati terus berusaha tuk pergi dari rumah Cornelis, akan tetapi Cornelis terus mencegahnya. Cornelis tidak menyakitinya, dia justru ingin melindungi Ambarwati. Cornelis bisa berbahasa Indonesia karena sudah 20 tahun bekerja di pemerintahan Hindia Belanda.


Ambarwati : “Tolong lepaskan aku, aku mohon. Aku ingin membela kaumku, akupun tidak menyakiti orang – orang Belanda, aku hanya ingin berusaha memahamkan mereka untuk tidak memandang dan memperlakukan kami rendahan. Itu saja.”


Cornelis : “Kau tidak bisa kulepaskan. Karena kau adalah tawananku. Jika aku melepasmu, justu pemerintah Hindia Belanda akan menangkapmu. Akan menyiksamu bahkan membuangmu. Kau harusnya bersyukur aku selamatkan.” (Menatap dan memegang dagu Ambarwati).


Ambarwati : “Tanpa kau selamatkan pun aku yakin, kekasihku akan menyelamatkanku. Kembalikan aku ke kantor residen.” (Berbicara lantang).


Cornelis : “Sayang sekali, aku tidak bisa melakukan itu karena aku begitu mencintaimu. Siapa kekasihmu itu? Akan ku cari dia sampai dapat dan aku penjarakan. Hanya aku seoranglah yang boleh mencintaimu.”


Ambarwati : “Kejam sekali dirimu. Aku tidak akan memberi tahu siapa kekasihku. Kau sama seperti mereka, kau sangat merendahkan kami. Dasar keparat.”


Cornelis : “Sama bagaimana maksudmu? Jika aku sama seperti mereka, aku akan membiarkanmu dipenjara dan diasingkan. Tapi, aku justru peduli padamu! Aku mencintaimu dan aku akan tetap mencari kekasihmu itu dan melenyapkannya. Dia tidak akan ditakdirkan untukmu.”


Ambarwati : (Berbicara sambil menangis) “Kau tidak bisa melakukan itu. Jangan lenyapkan kekasihku, aku mohon aku sangat mencintainya.” (Berlutut di kaki Cornelis).

Cornelis : “Baiklah, aku tidak akan melenyapkan kekasihmu, akan tetapi dengan satu syarat.”


Ambarwati : “Syarat apa yang harus kupenuhi? Akan ku lakukan apapun asal kau tidak melenyapkannya.”


Cornelis : “Menikahlah denganku, dan hiduplah di Belanda dengan mengubah identitasmu menjadi nama Belanda.”


Ambarwati : “Tidak sudi jika harus menikah denganmu. Aku tidak mencintaimu. Untuk mengubah identitasku, akupun tidak akan sudi. Aku bangga dengan nama Jawa pemberian ibuku. Di darahku mengalir darah orang Jawa.”


Cornelis : “Tapi kau juga keturunan Belanda, ingat itu. Paras cantikmu ini diturunkan dari ayahmu. Siapa orang Belanda yang tidak mencintaimu, gadis Indo? Kau tidak boleh menggunakan pakaian kebaya ini. Sangatlah tidak mencerminkan keturunan Belanda dari ayahmu. Jika kau tidak ingin kekasihmu lenyap di tanganku, maka tunduklah kepadaku.”


Akhirnya, dengan berat hati Ambarwati menuruti permintaan Cornelis sang kepala distrik. Cornelis membawa Ambarwati ke kantor Pemerintahan Belanda di Den Haag untuk menyembunyikan identitas Ambarwati yang sebenarnya, dan mengubah identitasnya. Ambarwati kini bernama Emma van Houben. Sekarang, dia bukanlah perempuan Indo tapi menjadi noni Belanda. Kebaya yang ia pakai setiap saat, tidak pernah lagi dipakainya dan digantikan oleh klederacht. Di Belanda, Emma adalah seorang ibu rumah tangga. Hasil pernikahannya dengan Cornelis, Emma memberikan 3 orang anak antara lain Danique van Houben, Gwen van Houben dan Noa van Houben. Nama Noa memiliki arti pergerakan. Nama itu dia dedikasikan agar Noa mewarisi semangatnya dalam membela perempuan Indo. Paras Noa mirip sekali dengan Emma atau Ambarwati.


30 tahun kemudian, Cornelis meninggal dunia saat berada di perjalanan pulang dari Indonesia menuju Belanda karena kecelakaan. Hati Emma sangat hancur, walaupun Cornelis mencintainya dengan cara yang salah, tapi dengan terbiasanya mereka bersama, benih – benih cinta antara Emma dan Cornelis semakin tumbuh subur. Danique, Gwen, dan Noa harus tetap melanjutkan pekerjaan ayahnya di Hindia Belanda terkhusus di Jawa. Sedangkan Emma harus menetap di Belanda karena sudah tua. Berbeda dengan Danique dan Gwen yang berkecimpung dalam dunia pemerintahan, Noa justru memiliki minat bergumul dengan orang – orang Pribumi untuk membantu mereka bekerja. Saat Noa berjalan – jalan di kebun kopi untuk melihat pekerjaan para Mandor dan kuli, ia melihat salah satu kuli yang sudah paruh baya. Dan kuli tersebut adalah Pramono.


Noa : “Waarom werk je nog? Had de voorman er niet een regel van gemaakt om geen oude dragers in the huren. Antwoord alstublieft in het Nederlands, ik smeek u, ik spreek nog gen Indonesisch spreken zoals mijn twee broers.” (Mengapa kamu masih bekerja? bukankah para mandor telah membuat aturan untuk tidak mempekerjakan kuli yang sudah tua. Jawablah dengan bahasa belanda aku mohon, aku belum bisa berbahasa Indonesia seperti kedua kakakku).


Pramono : “Wie ben jij dit mooie meisje? Ik heb het gevoel dat ik je heb geizen”. (Siapa kau gadis yang cantik ini? Aku seperti pernah melihatmu).

Noa : “Mijn naam is Noa van Houben. Zoon van Cornelis van Houben en Emma van Houben. In het verleden was mijn vader het districtshoofd in dit gebied.” (Namaku Noa van Houben. Anak dari Cornelis van Houben dan Emma van Houben. Dahulu, ayahku adalah kepala distrik di daerah ini).


Pramono : “Districtshoofd? Oudheid??” (Kepala distrik? zaman dahulu?)

Noa : “Je hebt de oorspronkelijke vraag niet beantwoord, waarom werk je nog?” (Kau belum menjawab pertanyaan awal, mengapa kau masih bekerja?)


Pramono : “Waarom woon ik in eenzaamheid in mijn hut. Mijn minnaar heeft me 32 jaar geleden verlaten, niet omdat hij niet van me hield, maar hij werd gearresteerd door de Nederlandse overheid, ik hoorde de vorige keer dat hij werd gered door het districtshoofd bij die tijd. Ik ben gewoon een inheemse man die in eenzaamheid vervalt. Ik zou liever de rest van mijn leven werken. In plaats van aan mijn verloren geliefde te denken. Nu, misschien is hij van mijn leeftijd. Ik mis hem. Haar naam is Ambarwati.” (Buat apa aku hidup dalam kesendirian di gubukku. Kekasihku 32 tahun silam pergi meninggalkanku, bukan karena dia tidak mencintaiku, tapi dia ditangkap oleh pemerintah Belanda, ku dengar terakhir kali bahwa dia diselamatkan oleh kepala distrik masa itu. Aku hanyalah laki – laki pribumi yang terjerembab dalam kesendirian. Lebih baik aku menghabiskan sisa usiaku untuk bekerja. Daripada terus memikirkan kekasihku yang pergi. Sekarang, mungkin dia sudah seusiaku. Aku rindu padanya. Namanya Ambarwati.)


Noa : “Was het districtshoofd mijn vader? Is je geliefde mijn moeder? Maar hoe kon dat gebeuren? Eigenlijk lijkt mijn moeder geen echte Nederlander. Ik heb mijn moeder ook zien huilen toen ze een foto van haar ouders zag, namelijk mijn grootouders die Javaanse kleding droegen.” (“Apa kepala distrik itu adalah ayahku? Apakah kekasihmu itu adalah ibuku? Tapi mana mungkin itu bisa terjadi? ​Pada dasarnya, ibuku seperti bukan orang belanda tulen. Aku juga pernah melihat ibuku menangis saat melihat foto orang tuanya yaitu kakek dan nenekku yang memakai pakaian orang Jawa.”)


Pramono : “Als dat waar is, is hij mij misschien vergeten. Helaas voor mij. Maar ik heb mezelf beloofd dat ik het nooit zal vergeten tot het einde van mijn leven. Ik heb haar de rode anjer gegeven tijdens onze laatste ontmoeting” (“Jika itu benar, mungkin dia sudah melupakanku. Malangnya aku. Tapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan pernah melupakannya sampai akhir hayatku. Bunga anyelir merah itu aku berikan padanya saat pertemuan terakhir kami.”)


Noa : “Waarom heb je hem een ​​rode anjer gegeven, waarom geen roos?” (“Kenapa kamu memberikan kepadanya bunga anyelir merah, kenapa tidak bunga mawar?”)


Pramono : “Rode anjers symboliseren bewondering en vriendschap. Ambarwati is een meisje van Nederlands - Javaans bloed. Hij was mijn beste vriend van kinds af aan, maar ons lot was anders. Hij is net als zijn vader en moeder die graag lid worden van de organisatie. Ondertussen kom ik uit een koeliefamilie. We leerden elkaar kennen toen zijn Nederlandse vader hem meenam naar een koffieplantage. Toen waren mijn vader en ik koffie aan het verbouwen. Zij is zo mooi. En ik was stomverbaasd om haar schoonheid te zien. Toen hij opgroeide, werd hij slimmer, terwijl ik gewoon als koelie leefde. We beloofden toen te trouwen omdat onze relatie als vrienden zo martelend was.” (“Anyelir merah melambangkan kekaguman dan persahabatan. Ambarwati adalah seorang gadis berdarah Belanda - Jawa. Dia sahabatku semasa kecil, tapi takdir kami berbeda. Dia sama seperti ayah dan ibunya yang senang bergabung di organisasi. Sedangkan aku, dari keluarga kuli. Kami bertemu saat ayahnya seorang Belanda mengajaknya pergi ke kebun kopi. Di saat itulah aku dan ayahku sedang menanam kopi. Dia begitu cantik. Dan aku terpana melihat kecantikannya. Saat dewasa, dia semakin pintar, sedangkan aku ya hanya hidup sebagai seorang kuli. Kami berjanji untuk menikah kala itu karena hubungan sebagai sahabat ini begitu menyiksa.”)


Noa : (Berbicara dalam hati) “Zoals ik me herinner, vertelde mijn moeder me ooit het verhaal van de prinses en de koffieboer toen ik klein was. Mama houdt ook erg van rode anjers, ik heb een schilderij van rode anjers gezien in mama en papa's kamer.” (“Seingatku, ibu pernah menceritakan kisah tuan putri dan petani kopi saat aku kecil. Ibu juga sangat menyukai bunga anyelir merah, aku pernah melihat lukisan anyelir merah ada di kamar ibu dan ayah.”)


Pramono : “Dan ga ik weer verder met werken. Ik moet nog veel koffie verbouwen, excuseer me.” (“Kalau begitu saya akan melanjutkan bekerja lagi. Masih banyak kopi yang harus saya tanam, permisi.”)

Noa : “Oke, ga alsjeblieft.” (“Baiklah, silahkan pergi.”)


Di Belanda Emma atau Ambarwati merasa kesepian. Tidak ada lagi Cornelis di sampingnya, anak – anaknya semuanya di Indonesia. Dia berpikir apakah ini saatnya untuk pulang kembali ke tanah airnya Indonesia. Usia yang sudah tua, membuatnya pikun. Dia hanya dapat mengingat keluarga kecilnya, Cornelis, Danique, Gwen, dan Noa serta bahasa Indonesia yang jarang ia ucapkan. Pramono bahkan tak tersisa diingatannya. Emma juga lupa karena apa dia memasang lukisan bunga anyelir merah di kamarnya.


Emma : “Lukisan itu mengapa ku pasang di sana? Apa dahulu Cornelis menyukainya atau Noa menyukainya. Lukisan itu sangat indah dan cantik. Lalu, bagaimana aku bisa sampai ke Belanda dan menikah dengan Cornelis? Apa dia yang memberikan lukisan bunga itu padaku? Atau bahkan dia pernah memberiku bunga anyelir merah?”


Di Belanda Emma merasa kesepian. Tidak ada lagi Cornelis di sampingnya, anak – anaknya di Indonesia. Dia berpikir apakah ini saatnya untuk pulang kembali ke tanah airnya Indonesia. Usia yang sudah tua, membuatnya pikun. Dia hanya dapat mengingat keluarga kecilnya, Cornelis, Danique, Gwen, dan Noa serta bahasa Indonesia yang jarang ia ucapkan. Pramono bahkan tak tersisa diingatannya. Emma juga lupa karena apa dia memasang lukisan bunga anyelir merah di kamarnya.

---- SELESAI -----

Comments


Postingan: Blog2_Post

©2022 oleh Sarasati Community. Dibuat dengan Wix.com

bottom of page